Memilih atau Dipilih

Tadi sore aku nonton video di YouTube dengan judul Mario Teguh Super Show : Memilih atau Dipilih. Acara tersebut membahas tentang bagaimana seseorang menentukan pilihannya dalam berbagai situasi. Hal yang paling aku ingat adalah Live Games tentang menilai foto perempuan dari skala 1 sampai 10.

Dalam games tersebut terdapat 4 orang laki-laki yang harus menilai 4 foto perempuan dengan ekspresi muka yang ‘dijelek-jelekkan’ seperti kebanyakan remaja perempuan lakukan saat berfoto. Dari games itu tersisa 1 perempuan yang foto mukanya paling jelek yang mendapatkan nilai paling rendah.

Setelah sesi penilaian berakhir, keempat perempuan yang ada di foto tersebut dihadirkan ke panggung. Dan penilaian keempat laki-laki itu pun jadi berbeda setelah melihat ‘penampakan’ asli dari perempuan-perempuan itu karena pada kenyataannya wajah mereka cantik dan menarik.

Kata-kata Pak Mario yang paling aku ingat tentang satu perempuan yang nilainya rendah yaitu, “Adek satu ini memiliki wajah yang cantik namun memilih untuk menampilkan ekspresi muka yang jelek sehingga mendapat nilai paling rendah. Jika ia menampilkan ekspresi muka yang tersenyum dan ramah maka penilaian para laki-laki ini akan berbeda. Untuk para perempuan di Indonesia yang sudah cantik jangan memasang foto alay dan berekspresi muka jelek. Bagi yang jelek jangan memasang foto yang dijelek-jelekkan. Tanpa itu pun kamu sudah punya modalnya. Jadi, pasanglah foto terbagus kalian, oke.”

Kata-kata tersebut mengingatkan aku kepada seorang perempuan di tiga bulan pertama di tahun 2015. Waktu itu aku dikenalkan teman kantor kepada teman semasa sekolahnya dulu di Bogor. Namanya adalah Yan.

Pertama kali saat aku mendapatkan BBM-nya, foto yang ia pasang adalah 4 foto muka dia dengan ekspresi dijelek-jelekkan. Nggg… pada saat itu jujur saja aku merasa aneh melihatnya. Agak gimanaaaa… gitu ngelihatnya. Sedikit ill feel tapi ya sudahlah. Akhirnya aku mulai chat dengannya. Aku tidak mempermasalahkan foto itu. Yang penting aku harus ketemu dia dulu.

Hari minggu aku menemuinya. Dia berpakaian muslimah lengkap. Tepatnya sangat tertutup sekali. Bahkan ia menggunakan kaus kaki. Seorang muslimah yang baik, pikirku. Hari demi hari aku dan dia intens berkomunikasi hingga akhirnya kita jadian. Namun sayang saat aku pulang dan menceritakan semua ini, orang-tuaku tidak setuju. Alasannya beliau ingin calon menantunya orang yang dekat rumah dan Ibu sedang mencarikan jodoh untukku. Katanya aku mau dikenalkan kepada seorang gadis asal Ciamis. Dia adalah keponakan dari Pak Agus. Pak Agus adalah pasien yang satu ruangan dengan Ibu saat dirawat di rumah sakit setelah dioperasi. Ibu bercerita banyak tentangku kepada Pak Agus

image

Satu tahun sebelumnya aku pernah mencintai seorang muslimah bernama Ima tapi hubungan kami kandas karena ia lebih memilih cowok lain. Kamu bisa membaca ceritaku tentang dia di blog aku yang lain yaitu Ishfah Seven dengan judul Bertemu Dengan Sang Joker.

Pada saat itu aku juga sangat memaksakan diri untuk segera menikahinya tanpa memedulikan keadaan orang-tua yang sedang sakit dan kondisi keuangan keluarga kami juga kurang baik. Ya, aku dibesarkan dari keluarga sederhana dan pas-pasan. Kami bukanlah orang kaya seperti keluarga Ima.

Aku sangat sakit hati akan kejadian itu. Hal yang paling aku sesalkan adalah aku sudah melibatkan Bapak dan Ibu untuk memenuhi ambisiku untuk menikah. Saat itu keluargaku dicemooh karena bukan dari keluarga kaya karena tidak membawa makanan atau oleh-oleh untuk keluarganya pada acara pertemuan keluargaku dan keluarganya. Aku sangat menyesal dan merasa berdosa kepada orang-tuaku.

Sejak saat itu aku bertekad untuk menuruti semua keinginan Bapak dan Ibu tentang urusan memilih calon menantu mereka. Aku tidak ingin lagi mengecewakannya. Mereka adalah orang-tuaku. Aku harus  menurutinya.

Kembali kepada cerita Yan, akhirnya aku memutuskan hubunganku. Aku sangat berat melakukannya. Apalagi ia terus-terusan menangis saat menelponku bahkan tangisannya semakin menjadi-jadi. Setelah telponnya ditutup aku pun menangis sendirian di dalam bus saat perjalanan kembali ke Jakarta.

Aku terkena dilema. Jika aku tetap berhubungan dengan Yan, aku tetap akan menyakitinya karena aku sudah mulai berkomunikasi dengan gadis Ciamis bernama Nicky. Aku akan selingkuh dari Yan jika tetap melakukannya. Padahal aku sangat benci kepada para peselingkuh.

Jika aku putus dengannya, aku juga merasa bersalah terhadap diri sendiri karena Yan adalan sosok perempuan sholehah yang baik, pintar, humoris, ngerti agama dan kita berdua sama-sama menyukai film.

Keputusan harus dibuat. Akhirnya hubungan kita berakhir. Aku membuat pilihan yang sulit dan sakit. Aku benci diriku yang tega membuat seorang perempuan menangis tersedu-sedu.

Tapi itulah kehidupan. Seseorang harus selalu memilih sebuah pilihan. Terkadang pilihan yang harus kamu ambil adalah pilihan yang sulit.

Memilih atau dipilih adalah sebuah kondisi dimana kamu diharuskan untuk mengambil keputusan dalam sebuah pilihan. Belajarlah untuk pintar dalam memilih apa pun. Pengetahuan yang luas akan membantumu menentukan pilihan menjadi lebih mudah dan yang terpenting adalah mengikuti kata hati.

Selamat Malam! Semoga hari esok lebih bermanfaat daripada hari ini.

See you… 🙂

Advertisements