Langkah Pertama

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah. Aku bersyukur kepada-Nya atas segala kenikmatan dan rezeki yang telah Dia berikan kepadaku. Salah satunya adalah sekarang aku sudah bisa tenang. Tenang dalam menghadapi masalah yang klasik yaitu pencarian jodoh.

Hal itu bermula saat aku mulai berhubungan dengan perempuan yang dikenalkan oleh saudaraku, Yogie. Untuk saat ini, aku akan memanggilnya Nona U.

Nona U itu sederhana, gak neko-neko dan rendah hati. Ia juga berasal dari keluarga yang baik dan berada di lingkungan keluarga muslim yang taat. Walau pendidikannya tidaklah tinggi dan pekerjaannya sebagai pekerja pabrik, aku sama sekali tidak mempermasalahkannya. Yang terpenting bagiku adalah dia bisa jadi calon ibu yang baik untuk anak-anakku nanti.

image

Ini adalah langkah pertama yang aku jalani. Masih banyak langkah lainnya yang menunggu di depan. Aku tahu betul bahwa langkahku ini tidak akan berjalan mulus 100%. Pasti ada halangannya.

Salah satu halangan adalah dari perempuan lain yang dikenalkan oleh Om aku. Namanya Sri. Kami sama-sama dipertemukan oleh orang tua yang punya harapan baik untuk anak-anaknya. Usianya 3 tahun lebih tua daripada usiaku. Sri adalah seorang bidan di sebuah rumah sakit. Sri seorang yang tomboy, cuek, keras kepala tapi sayang sama anak-anak.

Setelah aku bertemu dengannya, aku berharap dia memberikan respon yang baik. Aku menghubunginya dan menanyakan kabar dia. Aku ingin mengenalnya lebih dekat. Aku ingin tahu banyak tentang dia. Aku ingin mengetahui sifat, karakter dan kesukaannya. Aku ingin tahu tentang dia. Aku ingin tahu tentang perempuan yang nantinya akan jadi calon istriku. Namun, tidak semua hal berjalan seperti yang aku inginkan. Sri mengabaikan semua BBM aku hampir seminggu lebih. Aku jadi bertanya-tanya, sebenarnya perempuan ini mau gak sih aku deketin? Kalau lihat respon dari orang tuanya, mereka setuju dengan perjodohan ini. Aku berpikir, Sri sama saja dengan Poppy.

Singkat cerita, sebulan telah berlalu dan hari sabtu kemarin adalah acara pengajian untuk 40 harian wafatnya Almarhum Bapak. Aku pun pulang untuk menghadirinya.

Ketika aku sedang berada di bus menuju Tasik, tiba-tiba saja Sri menghubungiku. Intinya, dia melakukan pengabaian itu untuk mengetes aku. What? Tes? Kamu pikir aku ini anak SD yang mau ikut ujian? Kalau memang dia suka atau minimal menghargai usaha dari orang tuanya yang ingin menjodohkan dia denganku, harusnya dia merespon aku. Aku tidak muluk-muluk. Aku juga tidak datang ke rumahnya saat itu untuk langsung mengajaknya nikah. Tidak. Tidak seperti itu. Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku ingin mengenalnya terlebih dahulu. Tapi, bagaimana kamu bisa mengenal seseorang, jika dia sendiri tidak mau dihubungi? Jelas, aku menyimpulkan bahwa ia tidak suka dengan aku.

Sri mengatakan jika ia susah menerima seseorang yang baru ia kenal untuk jadi calon suaminya. Semua perempuan juga akan bersikap seperti itu. Masalahnya adalah apakah perempuan itu sendiri mau atau tidak untuk memberikan kesempatan kepada laki-laki agar bisa mendekatinya? Jika didekati saja tidak mau, jika dihubungi saja tidak mau, jika diajak bicara saja tidak membalas dengan baik, lalu apa yang tersisa untuk dilakukan?

Katanya, selama ini ia pikir-pikir, apakah ia ingin melanjutkan hubungan perkenalannya denganku atau tidak. Lama sekali ia berpikir hingga semuanya terlambat. Ya, terlambat. Ia muncul kembali setelah aku sudah berhubungan dengan Nona U. Ia terlalu lama mengambil keputusan. Keputusan untuk merespon aku.

Sekarang, setelah aku sudah bersama Nona U, dia hadir kembali. Bahkan ibunya menyalahkanku karena aku menghilang setelah pertemuan itu. Sebentar, menghilang? Mungkin, Ibu harus tanya anaknya tersebut. Kenapa ia melakukan aksi ‘pengetesan’ alias tidak merespon alias pengabaian alias acuh. Sebuah pertanyaan pun muncul, apakah Sri selalu melakukan aksi tersebut kepada semua lelaki yang mendekatinya? Di usianya yang 31 tahun ini. dia belum menikah. Aku rasa, sudah banyak lelaki yang kecewa dengan sikapnya itu.

Sri telah mengetes orang yang salah. Ia mengira, kalau aku akan mengejarnya jika dia berlaku seperti itu. Dia beranggapan bahwa hanya dia seorang, perempuan yang aku dekati. Oh tidak! Aku tidak seperti itu. Jika aku sudah diabaikan perempuan maka aku akan segera meninggalkannya. Lalu, aku akan mencari perempuan lainnya yang mau denganku.

Aku berkata kepada Sri bahwa kesempatan itu bisa saja datang sekali, dua kali, tiga kali dan seterusnya tetapi kesan pertama hanya datang sekali saja. Kesan pertama adalah yang menentukan langkah selanjutnya.

Sri telah memberikan kesan pertama yang tidak enak untukku sehingga aku pun malas untuk mengejarnya apalagi sampai menikahinya.

Sekarang semua itu sudah berlalu. Sri sudah minta maaf kepadaku dan aku pun sudah memaafkannya. Saat ini, hal yang paling penting adalah meneruskan langkahku dengan Nona U.

Aku berharap, aku bisa mendapatkan kebahagiaan dengan Nona U. Ia memang tidak sempurna. Begitu juga dengan diriku. Kita akan saling mengisi dan melengkapi. Semoga Allah juga meridhoi. Amin

Advertisements