Adaptasi

Di awal bulan ini, aku sudah menempati tempat tinggal baru. Sebuah rumah petak yang tidak terlalu besar. Namun aku merasa nyaman tinggal di sana. Tidak panas dan tidak perlu AC. Aku harap calon istriku bisa betah tinggal bersama di rumah.

Untuk pergi ke kantor, aku menggunakan jasa transportasi KRL (Kereta Rel Listrik) Commutter Line. Berdesakan, pegal dan berdiri adalah menu sehari-hari. Yah, ini adalah sebuah konsekuensi dari pilihan yang telah aku buat. Well, aku harus sudah bisa beradaptasi dengan baik.

Kehidupan baru sedang dimulai. Setelah lebaran, semuanya kembali ke fitrah, kembali ke nol. Dan, aku harus mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan. Membangun rumah tangga itu tidaklah mudah dan tidak pula sulit. Apalagi jika kita dihadapkan pada masalah klasik dan penting, yaitu uang.

Dari dulu, aku selalu yakin bahwa Allah Sang Pemberi Rezeki selalu bisa memberikan semua kebutuhan yang aku perlukan. Aku sangat yakin akan hal itu. Sudah banyak hal dan kejadian yang membuatku semakin mengagungkan Allah karena kasih sayang dan rahmat-Nya. Terutama dalam hal pemberian rezeki.

Banyak orang yang berusaha menggoyahkan keyakinanku kepada-Nya. Seperti teman dan keluarga yang mengatakan bahwa aku tidak akan bisa menghidupi istri selama aku hidup di Jakarta dengan gaji yang masih kecil. Ya, memang aku tidak bisa. Hanya Allah yang sanggup melakukannya.

Aku, sebagai manusia akan terus berikhtiar menjemput rezeki. Masalah hasilnya akan aku serahkan sepenuhnya kepada Allah. Aku akan terus melakukan semua hal yang bisa aku lakukan dan untuk hal-hal yang tidak bisa aku lakukan, biarlah Allah yang mengurusnya.

Advertisements

2 thoughts on “Adaptasi

Comments are closed.