Tutup Mata Tutup Telinga

Seorang teman dari temanku bercerita tentang kondisi kantor, tempat ia bekerja. Seperti yang para pekerja ketahui bahwa UMP Jakarta di tahun 2016 adalah sebesar 3,1 juta rupiah. Tetapi sayang seribu sayang, nasibnya tidak seindah para pekerja lain. Ia dan rekan kerja yang lainnya belum menerima gaji yang sesuai, gaji yang seharusnya. Bahkan hingga akhir tahun 2016 tidak ada perkembangan apa-apa tentang hal itu.

Ketika ia bertanya kepada atasannya, mereka menjawab hal lain dan terkesan tidak mau diganggu tentang urusan hak pekerja tersebut. Ditanya A malah jawab B alias ngeles kayak bajaj yang dikejar setan kredit.

Padahal jika kamu lihat di aturan pemerintah tentang UMP Jakarta, disana tertulis jelas berapa besaran gaji para pekerja. Lihatlah pasal 2 yang menyatakan bahwa perusahaan dilarang memberikan upah dibawah UMP.

ump

Sekarang ia hanya bisa pasrah. Menyerahkan segala urusannya kepada Allah. Segala cara sudah ia lakukan bersama dengan rekan-rekan kerja lainnya. Namun memang tidak semua keinginan sesuai dengan harapan. Ia merasa bahwa ia didzolimi dan para atasannya seakan tutup mata dan tutup telinga. Seseorang yang tidak bisa melihat dan mendengar maka ia tidak akan bisa berjalan lurus ke depan. Yang ada di hadapannya adalah sebuah petaka. Jika sampai tahun berganti, haknya tidak dipenuhi, ia berharap semoga ia bisa mendapatkan rezeki yang lebih baik dan semoga para bos di atas sana yang pura-pura buta dan tuli bisa segera sembuh agar tidak mengundang petaka di dalam hidupnya.

Akhirnya, sebagai teman aku bilang kepada dia agar tetap sabar dan berharapan baik. Allah tidak tidur dan lupa. Selama dia mau bersabar dan terus berusaha, Insya Allah, Allah akan menunjukkan jalan terbaik untuk dia. Kadang tidak semua hal yang kita anggap baik adalah baik untuk kita, begitu pun sebaliknya. Aku menepuk pundaknya dan menyemangatinya. Segala sesuatu terjadi bukan karena kebetulan. Pasti ada hikmah di baliknya. Mari ber-husnudzon!

Advertisements