Dipaksa

Seorang ustadz ditanya oleh seorang perempuan muslim tentang kenapa dirinya harus berjilbab. Saat ini, dia belum mengenakan jilbab karena belum siap. Katanya ia belum siap untuk menutup kepalanya dengan jilbab karena nanti inilah itulah. Yang penting hatinya tetap islam. Begitu kata si perempuan.

Sang ustadz pun menjawab, “Menutup aurat bagi wanita muslimah adalah kewajiban. Berjilbab merupakan tanda dan ciri seorang muslimah. Islam mengajarkan wanita untuk berjilbab untuk menjaga diri, tubuh dan harga dirinya sebagai seorang wanita. Jika saat ini kamu belum siap maka paksalah dirimu untuk berjilbab. Jika saat ini kamu tidak solat, maka paksalah dirimu untuk sholat. Jika tahun ini kamu malas berpuasa Ramadhan, paksalah dirimu untuk berpuasa. Dan paksalah dirimu untuk melakukan semua kewajiban yang diperintahkan dalam ajaran agama Islam, Jika kamu menunggu waktu untuk siap dan menunggu hidayah datang, mau sampai kapan? Hidayah itu tidak untuk ditunggu melainkan untuk dijemput. Tempat untuk bisa mendapatkan hidayah adalah di tempat-tempat baik seperti pengajian dan masjid. Dengan bertemu orang-orang baik, belajar mengaji banyak hal dari para ulama dan ustadz, sering tadarus Al-Quran, solat 5 waktu tidak pernah ketinggalan, dengan begitu hidayah akan datang. Paksalah dirimu untuk mau berhijrah ke jalan kebaikan.”

muslim

Selaras dengan ucapan sang ustadz, aku jadi ingat perkataan guruku saat di pesantren dulu. Waktu itu kami sedang dididik agar mau dan rajin solat berjamaah. Masa-masa remaja adalah masa penuh rasa malas dan pemberontakan. Beliau mengingatkan kami akan pentingnya solat berjamaah. Ia berkata, “Kalian ini kenapa? Mau disuruh masuk surga oleh Allah saja mesti dipaksa? Kalau memang seperti itu, maka para ustadz disini tidak akan berhenti untuk mengingatkan dan memaksa diri kalian keluar dari godaan setan dengan istiqomah menjalankan kebaikan.”

Padahal kita semua begitu menginginkan dan mendambakan masuk surga tetapi ketika disuruh untuk membeli tiket masuk, malah malas-malasan dan cenderung enggan untuk melakukan kewajiban yang telah ditentukan oleh Allah.

Kami, para santri yang masih muda (seumuran anak SMP/SMA) banyak yang malas berangkat solat berjamaah (terutama solat subuh) karena masih ngantuk. Namun waktu telah berlalu. Kini aku sudah dewasa. Telah banyak hal dan pengalaman yang aku lalui. Sekarang aku tahu bahwa guruku di pesantren itu sayang kepada kami dengan menyuruh untuk solat. Walau kami harus dibangunkan dengan cara memukul-mukul pintu kamar dengan kayu, menyiram muka kami dengan air segayung, bahkan memukul telapak kami kami dengan rotan jika kami tertangkap tidak solat berjamaah. Semua hal itu untuk mendisiplinkan kami yang bandel. Para guru itu memaksa kami agar bisa solat berjamaah. Para guru itu mengajarkan kami agar terbiasa melakukan semua kewajiban yang diperintahkan dalam ajaran agama islam.

Saat ini, kata ‘dipaksa’ rasanya sedang aku butuhkan untuk memotivasi diri. Aku harus bisa memaksakan diri ini agar mau terus melakukan solat, puasa, zakat dan lain-lain. Karena setiap hari, hati ini bisa berubah-ubah mood dan keinginannya. Selalu saja ada halangan untuk melakukan kebaikan.

Aku harus bisa membiasakan diri lagi untuk istiqomah membaca Al-Quran, solat 5 waktu tidak boleh ada yang bolong-bolong, dan lain sebagainya. Sebagai manusia, kita harus bisa memaksa diri untuk meninggalkan semua kejelekan yang dihembuskan para setan. Mereka pasti akan terus menggoda dan menggoyahkan hati ini agar melenceng dari jalan yang lurus, jalan kebaikan.

Kamu pasti bisa solat tepat waktu asalkan kamu mau membiasakan diri. Kamu bisa membaca Al-Quran, minimal satu halaman dalam satu hari asalkan kamu mau membiasakan diri. Kamu bisa memakai terus jilbab (bagi para muslimah) asalkan kamu mau membiasakan diri. Kamu bisa bicara yang baik dan berguna asalkan kamu mau membiasakan diri.

Kamu bisa karena terbiasa. Kamu terbiasa karena dipaksa.

Advertisements