Sombong

Saat seseorang merasa dirinya lebih baik dalam segala hal dari orang lain maka ia sudah berlaku sombong. Merasa dirinya paling tampan/cantik, paling pintar, paling berkuasa, paling diandalkan atasan, paling menarik dan lain sebagainya. Dan perbuatan sombong adalah dosa.

Seperti yang kita ketahui, dulu Iblis diusir dari Surga dan menjadi musuh utama manusia ketika ia menolak untuk bersujud kepada Nabi Adam. Dengan sombongnya ia mengatakan bahwa dirinya lebih mulia daripada Nabi Adam. Ia diciptakan dari api sedangkan Nabi Adam diciptakan dari tanah. Dulu Iblis adalah hamba Allah yang taat beribadah selama ribuan tahun, namun kesombongan telah mengubah dirinya menjadi musuh manusia yang dilaknat oleh Allah.

Kita tidak boleh sombong karena saat kita lahir kita tidak punya kekuasaan apa-apa. Kita tidak punya kekayaan apa-apa. Bahkan pakaian pun tidak. Kecerdasan pun kita tidak punya. Namun karena kasih-sayang orang tua, kita akhirnya jadi dewasa. Begitu pula saat kita mati, segala jabatan dan kekayaan akan hilang. Kita dikubur dalam lubang yang sempit dengan pakaian seadanya yang nanti akan lapuk dimakan zaman.

sombong

Untuk menghindari sombong, kita harus belajar untuk tawadhu. Tawadhu’ secara bahasa bermakna rendah terhadap sesuatu. Sedangkan secara istilah adalah menampakkan perendahan hati kepada sesuatu yang diagungkan. Ada juga yang mengatakan tawadhu’ adalah mengagungkan orang karena keutamaannya. Tawadhu’ adalah menerima kebenaran dan tidak menentang hukum. Tidak ada yang mengingkari bahwa tawadhu’ adalah akhlak yang mulia. Yang menjadi pertanyaan, kepada siapa kita merendahkan hati. Allah عزّوجلّ menyifati hamba yang dicintai-Nya dalam firman-Nya :

 “Yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir.” (QS. Al-Maidah [5]: 54)

(Penjelasan selengkapnya tentang Sombong dan Tawadhu telah aku tulis di Ishfah Seven)

Advertisements