Hawa Nafsu

Saat masih lajang dulu, hawa nafsuku susah dikendalikan. Maklum darah muda. Setiap melihat perempuan yang cantik dan bohay, bawaannya jadi mikir yang macem-macem. Hadeehh… Berat dan pusing. Kenapa? Karena tidak ada penyaluran emosi dan energi.

Hawa nafsu adalah sebuah kekuatan emosional yang langsung berkaitan dengan pemikiran atau fantasi tentang hasrat seseorang, biasanya berkenaan dengan seks. Hawa nafsu terdiri dari dua kata: hawa (الهوى) dan nafsu (النفس). Dalam bahasa Melayu, ‘nafsu’ bermakna keinginan, kecenderungan atau dorongan hati yang kuat. Jika ditambah dengan kata hawa (=hawa nafsu), biasanya dikaitkan dengan dorongan hati yang kuat untuk melakukan perkara yang tidak baik. Adakalanya bermakna selera, jika dihubungkan dengan makanan. Nafsu syahwat pula berarti keberahian atau keinginan bersetubuh.

Sebagai manusia normal baik laki-laki maupun perempuan memiliki kebutuhan biologis dasar yaitu kebutuhan akan hubungan seks. Untuk yang sudah dewasa dan sudah menikah, hal ini terasa mudah karena sudah memiliki pasangan. Salah satu keunggulan orang yang sudah menikah dengan orang lajang adalah ia bisa memenuhi kebutuhan seksualnya kapan pun dan dimana pun karena ia sudah halal melakukannya dengan pasangannya. Akan tetapi untuk yang masih ABG (Anak Baru Gede) dan remaja akan sangat berbahaya apabila tidak mampu mengendalikan nafsu birahi yang menggelora yang siap meledak kapan saja.

Laki-laki dan perempuan yang belum menikah harus mengetahui bagaimana cara untuk mengendalikan nafsu seksualnya agar terhindar dari berbagai dampak buruk dari ketidakmampuan menahan nafsu birahi. Banyak yang telah terjerumus dalam kehancuran akibat dari gagal menahan nafsu yang harus ditanggung seumur hidup. Sangat disarankan bagi orang-orang yang sudah cukup umur bersegera untuk menikah sah secara agama dan hukum pemerintah.

hawa-nafsu

Manusia memang diciptakan untuk berpasangan. Setelah lama mencari jodoh akhirnya aku bisa menemukannya dan sekarang ia sudah menjadi istriku. Memang obat untuk pemuda yang tidak bisa menjaga diri dari perempuan adalah menikah.

Apakah pernikahan memiliki tujuan tertentu? Tentu saja. Sesuatu yang dianjurkan dalam Islam selalu memiliki maksud dan tujuan yang baik bagi pengikutnya. Berikut ini adalah beberapa tujuan dari pernikahan menurut Islam :

  1. Tuntutan Naluri Manusia
    Pernikahan adalah fitrah manusia, maka jalan yang sah untuk memenuhi kebutuhan ini adalah dengan akad nikah (melalui jenjang pernikahan), bukan dengan cara yang amat kotor dan menjijikkan, seperti cara-cara orang sekarang ini; dengan berpacaran, kumpul kebo, melacur, berzina, lesbi, homo, dan lain sebagainya yang telah menyimpang dan diharamkan oleh Islam.
  2. Benteng Akhlaq
    Pernikahan berfungsi untuk membentengi manusia dari perbuatan kotor dan keji, yang dapat merendahkan dan merusak martabatnya. Islam memandang pernikahan dan pembentukan keluarga sebagai sarana efektif untuk memelihara pemuda dan pemudi dari kerusakan, dan melindungi masyarakat dari kekacauan.
    Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    “Wahai para pemuda! Barangsiapa di antara kalian berkemampuan untuk menikah, maka menikahlah, karena nikah itu lebih menundukkan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia shaum (puasa), karena shaum itu dapat membentengi dirinya.”
  3. Ibadah
    Menurut konsep Islam, hidup sepenuhnya untuk mengabdi dan beribadah hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan berbuat baik kepada sesama manusia. Dari sudut pandang ini, rumah tangga adalah salah satu lahan subur bagi peribadahan dan amal shalih di samping ibadah dan amal-amal shalih yang lain, bahkan berhubungan suami istri pun termasuk ibadah (sedekah).
    Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    “Seseorang di antara kalian bersetubuh dengan istrinya adalah sedekah!” (Mendengar sabda Rasulullah, para Sahabat keheranan) lalu bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah salah seorang dari kita melampiaskan syahwatnya terhadap istrinya akan mendapat pahala?” Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Bagaimana menurut kalian jika ia (seorang suami) bersetubuh dengan selain istrinya, bukankah ia berdosa? Begitu pula jika ia bersetubuh dengan istrinya (di tempat yang halal), dia akan memperoleh pahala.”
  4. Keturunan Yang Shalih
    Tujuan pernikahan di antaranya adalah untuk memperoleh keturunan yang shalih, untuk melestarikan dan mengembangkan bani Adam, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:
     “Dan Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau istri) dari jenis kamu sendiri dan menjadikan anak dan cucu bagimu dari pasanganmu, serta memberimu rizki dari yang baik. Mengapa mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah?” [An-Nahl : 72]

(Mengenai Hawa Nafsu dan Pernikahan, aku telah membahasnya lebih lengkap di sini.)

Advertisements