LCD HP dan Menulispedia

Minggu, 12MAR17

Aku baru mandi sembilan puluh menit sebelum azan Dzuhur berkumandang. Aku telah bersih-bersih dan bersiap untuk pergi ke Detos (Depok Town Square) bersama istri. Rencananya hari ini kami akan mengecek HP (Handphone) ke Service Center Samsung di sana. HP milik istriku rusak dan tidak menyala padahal sebelumnya aku sudah membelikannya baterai baru. Aku kira itu adalah sebabnya.

Sekitar jam 11 siang kami berangkat. Jalanan utama daerah Lenteng Agung (Jakarta Seatan) menuju Depok cukup ramai di hari Minggu. Ada banyak kendaraan yang lalu-lalang. Terik mentari tampak begitu sangar menyengat kulit-kulit dari tubuh kami. Kaca jendela mobil Angkot sengaja dibuka agar hembusan angin dari luar masuk dan menyejukkan kepala dan tubuh kami yang mulai merasa kepanasan. Baik Jakarta atau Depok memang sedang memasuki peralihan musim. Kadang sangat panas. Kadang hujan tiba tanpa aba-aba.

Sesampainya di Service Center Samsung, HP Samsung J5 milik istriku segera diperiksa. Sekitar 20 menit HP itu diperiksa. Saat Mbak Customer Service kembali dari ruangan teknisi Samsung, dia segera memanggil kami dan menjelaskan bahwa penyebab matinya HP karena LCD-nya rusak. Memang tidak ada masalah dengan baterainya. Si Mbak-mbak CS menunjukkan HP itu. Dia menggeser-geser layar HP yang menyala tapi ternyata tidak ada respon dari LCD-nya. Jika mau diganti, aku harus membayar biaya ganti LCD baru sebesar 620 ribu rupiah. Wow! Lumayan mahal juga, pikirku. Akhirnya aku hanya membayar biaya pengecekan sebesar 99 ribu rupiah. Harga yang cukup mahal hanya untuk mengecek HP.

Setelah membayar biaya pengecekan itu, kami segera pergi dari Service Center Samsung. HP milik istriku masih sama seperti sebelumnya alias mati karena kami belum memiliki uang untuk membeli LCD baru. Untuk menyenangkan hati istri, aku mengajaknya membeli makanan. Ia cukup senang karena perutnya memang sedang lapar. Istriku mengatakan tidak apa-apa jika HP-nya belum bisa diperbaiki. Aku pun tenang mendengar perkataannya itu.

Usai masalah HP, kami pergi ke toko buku. Setelah ngubek sana-sini, akhirnya aku menemukan buku yang aku mau. Judulnya adalah Menulispedia : Panduan Menulis untuk Mereka yang Insaf Menulis karya Bambang Trim, pendiri dari InstitutPenulis.id. Beliau adalah praktisi penulisan-penerbitan yang pernah memimpin beberapa lembaga penerbit. Ia mengenyam pendidikan khusus ilmu penerbitan di Prodi D3 Editing dan S1 Sastra Indonesia UNPAD. Selain itu, ia telah menulis lebih dari 160 judul buku berbagai topik.

Buku seperti ini memang sedang aku butuhkan untuk menimba ilmu tentang dunia kepenulisan. Aku yang seorang penulis amatir ini, sangat perlu banyak belajar dari para senior penulis. Meski aku baru punya blog sebagai media untuk mencurahkan ide dan hasrat aku tentang sesuatu, aku cukup senang. Senang karena ada wadah yang bisa aku jadikan sebagai tempat untuk menulis. Namun aku belum puas. Masih terlalu dini untuk merayakan kepuasan itu. Oleh karena itu aku masih harus terus belajar segala macam ilmu kepenulisan.

Dari buku Menulispedia disebutkan bahwa kekeliruan menulis paling jamak terjadi di Indonesia adalah berorientasi pada jenis (hasil) tulisan, bukan prosesnya. Dengan gaya serius tapi santai, Bambang Trim mengajak pembaca untuk insaf menjalani tahap demi tahap menulis secara taktis.

Buku unik tentang proses kreatif menulis ini memuat langkah demi langkah menulis : pramenulis (prewriting), menulis draf (drafting), merevisi draf (revising), swasunting (self-editing), dan memublikasikan karya (publishing). Banyak hal taktis dan praktis yang ditawarkan penulis agar pembaca mau dan mampu menulis dengan baik.

Semoga aku bisa mengaplikasikan panduan menulis ini dengan baik sehingga nantinya aku bisa benar-benar menjadi seorang penulis yang handal.

Amin.

Advertisements