Dyslexia / Freudian Slip / Parapraxis

Anak lelaki kecil berseragam SD itu nampak gugup berada di dekat Presiden Jokowi. Sepertinya, kehadiran Bapak Presiden cukup membuatnya pucat dan gemetar. Dia terlihat berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri. Berdiri sepanggung bersama seorang presiden bukanlah hal yang dapat kamu jumpai setiap hari. Ari Aditya (nama anak itu) merasakan kegugupan yang luar biasa. Dia dan beberapa orang siswa lainnya dipanggil ke panggung untuk mengikuti kuis yang diberikan oleh presiden.

Kejadian terjadi tanggal 26 Janurari 2017 pada saat acara pembukaan gelaran Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2017 di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta Pusat. Beliau memberikan pertanyaan-pertanyaan seputar kemaritiman dan kelautan. Nah, anak ini mendapatkan pertanyaan tentang nama-nama ikan yang berada di perairan Indonesia. Dia hanya perlu menjawab 4 nama ikan saja. Tetapi ada satu nama ikan yang salah pengucapannya. Seharusnya adalah Ikan Tongkol, namun si anak menyebutkan nama yang lain yaitu Ikan K***OL (cerita selengkapnya dapat kamu cek di Youtube).

Menurut kabar yang beredar, ternyata anak tersebut bukan hanya gugup tetapi menunjukkan adanya gejala Dyslexia. Benarkah seperti itu? Ada juga yang memberitakan bahwa Ari mengalami Freudian Slip atau Parapraxis. Jadi, mana yang benar?

Untuk mengetahuinya, mari kita bahas sedikit tentang penjelasan dari kedua penyakit tersebut.

Disleksia (bahasa Inggris: dyslexia) adalah sebuah gangguan dalam perkembangan baca-tulis yang umumnya terjadi pada anak menginjak usia 7 hingga 8 tahun. Ditandai dengan kesulitan belajar membaca dengan lancar dan kesulitan dalam memahami meskipun normal atau di atas rata-rata. Ini termasuk kesulitan dalam penerapan disiplin Ilmu Fonologi, kemampuan bahasa/pemahaman verbal. Disleksia adalah kesulitan belajar yang paling umum dan gangguan membaca yang paling dikenal. Ada kesulitan-kesulitan lain dalam membaca namun tidak berhubungan dengan disleksia.

Beberapa melihat disleksia sebagai sebuah perbedaan akan kesulitan membaca akibat penyebab lain, seperti kekurangan non-neurologis dalam penglihatan atau pendengaran atau lemah dalam memahami instruksi bacaan. Ada 3 aspek kognitif penderita disleksia yaitu Pendengaran, Penglihatan, dan Perhatian. Disleksia memengaruhi perkembangan bahasa seseorang.

Penderita disleksia secara fisik tidak akan terlihat sebagai penderita. Disleksia tidak hanya terbatas pada ketidakmampuan seseorang untuk menyusun atau membaca kalimat dalam urutan terbalik tetapi juga dalam berbagai macam urutan, termasuk dari atas ke bawah, kiri dan kanan, dan sulit menerima perintah yang seharusnya dilanjutkan ke memori pada otak. Hal ini yang sering menyebabkan penderita disleksia dianggap tidak konsentrasi dalam beberapa hal. Dalam kasus lain, ditemukan pula bahwa penderita tidak dapat menjawab pertanyaan yang seperti uraian panjang lebar.

Para peneliti menemukan disfungsi ini disebabkan oleh kondisi dari biokimia otak yang tidak stabil dan juga dalam beberapa hal akibat bawaan keturunan dari orang tua.

Ada dua tipe disleksia, yaitu developmental dyslexsia (bawaan sejak lahir) dan aquired dyslexsia (didapat karena gangguan atau perubahan cara otak kiri membaca). Developmental dyslexsia diderita sepanjang hidup pasien dan biasanya bersifat genetik. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa penyakit ini berkaitan dengan disfungsi daerah abu-abu pada otak. Disfungsi tersebut berhubungan dengan perubahan konektivitas di area fonologis (membaca). Beberapa tanda-tanda awal disleksia bawaan adalah telat berbicara, artikulasi tidak jelas dan terbalik-balik, kesulitan mempelajari bentuk dan bunyi huruf-huruf, bingung antara konsep ruang dan waktu, serta kesulitan mencerna instruksi verbal, cepat, dan berurutan. Pada usia sekolah, umumnya penderita disleksia dapat mengalami kesulitan menggabungkan huruf menjadi kata, kesulitan membaca, kesulitan memegang alat tulis dengan baik, dan kesulitan dalam menerima.

Sedangkan Parapraxis merupakan kesalahan berbicara yang diyakini bisa mengungkapkan hal sebenarnya yang ada dalam alam bawah sadar seseorang. Penemu teori ini adalah Sigmund Freud dari Austria. Freud menjelaskan bahwa alam bawah sadar merupakan sebuah gudang penyimpanan bagi segala kenangan, pikiran, motif, dan keinginan yang tidak terungkapkan.

Biasanya, seseorang akan terus mencoba untuk menekan dan membatasi pemikiran tersebut. Hal inilah yang secara tidak sadar mulai mempengaruhi alam sadar seseorang, hingga ‘terdorong’ keluar secara tidak sengaja lewat mimpi atau kalimat spontan. Hal inilah yang menjadi alasan kenapa keseleo lidah atau kesalahan berbicara terjadi.

Freud berpendapat bahwa keseleo lidah merupakan tanda yang menuntun pada kondisi psikologi yang mendalam pada diri seseorang. Ia juga memercayai bahwa ketika seseorang kelepasan mengatakan sesuatu secara tak disengaja, hal itu bukanlah murni sebuah kebetulan, namun merupakan kondisi dimana sensor pikiran mengalami kerusakan dalam memproses informasi apa yang harus diungkapkan.

Contoh sederhana adalah ketika seorang lelaki salah memanggil nama sang kekasih dengan nama sang mantan. Freud berpendapat bahwa hal ini bukanlah sebuah kebetulan, namun hampir bisa dipastikan bahwa sebenarnya sang lelaki diam-diam masih memiliki rasa ketertarikan terhadap sang mantan.

Tapi, jangan buru-buru menilai teman kamu sedang mengalami sindrom yang satu ini, lho. Meski kesalahan pengucapan atau keseleo lidah selama ini dipercaya memiliki makna tersembunyi, definisi sebenarnya dari Parapraxis mencakup ruang lingkup yang lebih luas pada kepribadian dan kehidupan sehari-hari seseorang. Hal ini berarti bahwa tak semua kasus kesalahan pengucapan kata yang kamu saksikan masuk dalam kategori Parapraxis.

Lepas dari benar atau tidaknya Ari mempunyai Dyslexia atau Parapraxis, yang pasti Ari sendiri akan mengingat kejadian ini seumur hidupnya. Setelah ramai-ramai diberitakan di media sosial dan televisi, menurutku Ari merasakan malu apalagi jika teman-teman atau saudara di sekitarnya malah mengolok-oloknya. Bagiku, tingkah laku Ari itu berasal dari kepolosan atau keluguannya seperti anak kecil pada umumnya. Ditambah rasa gugup saat berada di samping Bapak Presiden. Jangankan Ari, aku ataupun kamu juga pasti akan merasakan kegugupan yang sama jika ada presiden berada di dekatmu.

Aku berharap Ari bisa tetap semangat sekolah dan terus belajar dengan giat dan sungguh-sungguh. Di satu sisi, kemunculan Ari dengan tingkah polosnya telah memberikan hiburan bagi warga Indonesia yang tengah pusing oleh kekisruhan politik yang tak kunjung berhenti. Di sisi lain, kita diarahkan untuk belajar sesuatu. Kita harus bisa mengambil pelajaran dari kejadian ini. Setiap kejadian selalu ada hikmahnya. Pelajaran dan hikmah yang dapat kita renungkan dari hal ini yaitu, 1). Rasa gugup bisa menyerang siapa saja, tidak hanya anak kecil, orang dewasa pun bisa mengalaminya, 2). Kita tidak boleh langsung memvonis seseorang murni bersalah tanpa mengetahui latar belakangnya seperti pendidikan, riwayat kesehatan atau pengalaman yang pernah ia alami (baik pahit atau manis) dan motif orang tersebut, 3). Stop membully Ari dan berikan semangat kepadanya agar tetap bisa bersekolah, dan 4). Kita jadi tahu tentang penyakit yang bernama Dyslexia dan Parapraxis.

SUMBER : Kumparan dan Wikipedia

Advertisements