KRL Yang Selalu Penuh

Sabtu, 25MAR17

Pagi itu sebelum jam enam pagi, aku sudah berangkat kerja dari rumah. Tepat jam enam lebih lima menit aku sampai di stasiun Lenteng Agung. KRL jurusan Bogor/Depok yang menuju Tanah Abang adalah kereta yang aku tunggu. Satu per satu kereta lewat di stasiun itu, baik yang menuju Tanah Abang atau Jakarta Kota. Tetapi semuanya sama yaitu penuh. Atau lebih tepatnya berjejalan. Biasanya aku masih bisa mendapatkan space di dekat-dekat pintu kereta, walau harus agak memaksakan diri dan mendorong penumpang lainnya, but it works. Aku bisa masuk!

Apesnya hari ini, space itu tidak ada sama sekali. Masih banyak penumpang lain yang akan naik mengalami hal yang sama denganku. Oke, aku tinggal tunggu kereta berikutnya. Aku punya rencana untuk menaiki kereta jurusan Jakarta Kota saja dan nanti aku bisa turun di Stasiun Manggarai dan beralih lagi ke kereta tujuan Tanah Abang. Ya, meskipun harus dua kali naik tapi asalkan aku bisa sampai sih, itu tidak menjadi masalah.

Namun terkadang, rencana tidak sesuai dengan kenyataan. Semua kereta yang melintas di Stasiun Lenteng Agung, tidak ada yang kosong. Padahal waktu itu sudah jam setengah tujuh pagi. Oh, what should I do?

Awalnya aku memutuskan untuk pulang saja ke rumah. Tapi, hati kecilku melarangnya. Masa sih hanya gara-gara ini aku jadi tidak bekerja. Aku masih punya tanggung jawab pekerjaan yang harus aku lakukan. Juga, aku punya janji untuk membantu Mbak Riri (rekan kerja) untuk melakukan reboot handphonenya. Maklum lah, Mbak Riri gaptek, jadi dia memintaku untuk mereset hapenya yang jadi error tempo hari.

Akhirnya, sebuah keputusan harus aku ambil. Jika jalur ke arah Tanah Abang memang selalu penuh ketika aku akan naik dari sini, aku harus backtrack alias mengambil jalur mundur. Aku segera berlari ke arah peron di sebrang tempat aku berdiri. Aku akan menaiki KRL tujuan Depok terlebih dahulu. Tak apa lah. Meski harus mundur beberapa stasiun, yang penting aku bisa naik kereta menuju tempat kerja.

Pucuk di cinta, ulam pun tiba. Peribahasa itu cocok untuk situasiku sekarang. KRL tujuan akhir Depok telah tiba. Saat aku masuk, ternyata lengang di dalamnya.Hanya ada sedikit orang. Lalu kereta pun berjalan melewati Stasiun Pancasila, UI, Pondok Cinta, Depok Baru dan berakhir di Depok. Satu hal yang aku tahu sekarang adalah banyak juga penumpang kereta yang melakukan hal yang sama sepertiku yaitu mundur ke Stasiun Depok, padahal tujuan akhirnya adalah Sudirman, Karet dan Tanah Abang.

Karena aku naik kereta saat suasana masih sepi, aku bisa duduk di kereta. Sesampainya di Stasiun Depok, kereta segera terisi. Walau tidak terlalu penuh, semua tempat duduk langsung diserbu penumpang. Mereka berebutan mencari tempat duduk. Bagi para AnKer (Anak Kereta) mendapatkan spot kursi itu ibarat menemukan oasis di gurun pasir.

Aku melihat jam tanganku, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lebih. Sudah dapat dipastikan, aku akan telat sampai di kantor. Oleh karena itu, aku segera mengabari Pak BC (rekan kerja) agar bisa diinfokan ke Supervisor kami di sana bahwa aku telat datang ke kantor.

Karena perjalanan jadi lebih panjang, aku mengeluarkan handphone dan memasang headset. Aku membuka aplikasi Youtube dan menonton video luring (offline) yang sebelumnya sudah aku simpan. Jadi bisa hemat kuota dan tidak ada buffering.

Di sepanjang perjalanan, ketika KRL melewati sebuah stasiun, penumpang yang naik makin banyak, bahkan ada yang tidak bisa naik (sama sepertiku saat di Lenteng Agung tadi). Alhasil, kereta sudah terisi penuh dan seperti biasa, berjejalan dan berhimpit-himpitan.

Kejadian ini aku alami dua kali pada hari Rabu dan Jumat kemarin. Beruntungnya, di hari Kamis aku bisa naik dari Stasiun Lenteng Agung. Tapi tetap masih dalam kondisi berdesakan. Kapan ya, KRL di Jabodetabek ini bisa tidak penuh seperti ini lagi? Apakah bisa? Hmm… kemungkinan itu bisa saja ada. Pertama, jumlah penumpang KRL bisa saja menurun ke arah Sudirman dan sekitarnya jika pusat mata pencaharian tidak hanya berada di sana. Selama ini, pekerja yang datang dan pergi setiap hari ke daerah Jakarta Pusat, sebagian besarnya adalah bukan warga Jakarta Pusat melainkan dari daerah Jakarta lainnya, bahkan ada yang datang dari Bogor, Depok dan Bekasi.

Kedua, penumpang KRL bisa saja menurun (tidak berdesakan) jika jumlah KRL-nya ditambah. Ketiga, pemerintah harus menyediakan moda transportasi lainnya atau membuat pelebaran jalan dan penambahan jalur rel ganda.

Atau aku harus segera pindah dari sini. Ibu Kota tidak selalu ramah kepada setiap orang. Di sini, orang-orangnya kebanyakan keras, persaingan ketat, apatis dan cenderung lebih mementingkan diri sendiri. Kamu bisa saja tidak setuju denganku tentang hal ini. Tetapi setidaknya, ini yang aku rasakan selama ini.

Aku sendiri ingin tahu takdirku ini. Sampai kapan aku bisa bertahan di kota ini? Aku akan mengetahuinya nanti. Sekarang, aku hanya perlu maju. Tidak ada pilihan untuk berhenti atau menyerah.

Semangat, Mi!

Advertisements