Sebuah Kutukan

Minggu, 26MAR17

Jam enam kurang tujuh menit. Sebentar lagi adzan Magrib akan berkumandang. Matahari hendak pulang ke peraduannya dan digantikan Sang Dewi Malam. Tapi, sepertinya malam ini benda langit bulat itu tidak akan kelihatan walau sebenarnya ada. Sebabnya, awan mendung sedari sore telah menyelimuti Kota Jakarta. Angin dingin mengalir semilir. Pelan. Berhembus dari utara ke selatan. Menerobos sela-sela pintu dan jendela rumah. Menebarkan kesejukan-kesejukan. Jika merasakan dinginnya cuaca sore ini, jadi teringat suasana Bandung.

Sementara aku menulis, istriku sedang asyik menonton pertandingan El-Clasico Persib Bandung versus PSMS Medan. Sebagai bobotoh sejati, dia khusyuk menonton pertandingan sepak bola itu. Sambil sesekali berteriak menyoraki para pemain atau kadang-kadang memukul-mukul bantal atau apa saja yang berada di dekatnya sebagai luapan ekspresi antara senang, kesal dan gemas.

Hari ini seharusnya aku sudah berada di rumahku, Tasikmalaya. Rencana awalnya aku dan istri akan menengok Ibu di rumah. Aku sudah kangen beliau dan ingin melepaskan kejenuhan kota Jakara yang luar biasa ini. Tapi, karena kantor aku sangat profesional, gajiku diundurkan. Jadi aku belum bisa pulang kampung.

Seharusnya aku menerima gaji hari Jumat kemarin. Semua teman-teman kerja yang satu vendor denganku sudah menerima gajinya. Hanya sisa aku seorang yang belum. Saat aku tanya ke HRD dari vendor itu, ia mengatakan bahwa gajianku diundur hingga hari Senin besok. Alasannya karena aku sedang dialihkan ke vendor lain (yang sebenarnya adalah anak perusahaannya juga).

Aku hanya bisa menghela nafas panjang. Beginilah nasib pegawai outsourcing. Sepengetahuanku dalam aturan pemerintah itu seorang pegawai bisa dikontrak maksimal 2 tahun. Setelah 2 tahun ia harus diangkat sebagai pegawai tetap. Tapi karena perusahaan yang bekerjasama dengan vendorku ini tidak mau ada pegawai tetap maka setiap 2 tahun (bahkan kadang 1 tahun sekali) kontrak kami diperbaharui lagi. Alih-alih diangkat sebagai pegawai tetap, kami justru dipindahkan ke vendor lain (dalam kasus ini ke anak perusahaan si vendor) agar diputihkan. Maksudnya status pekerjaku kembali ke nol, seolah-olah tidak pernah bekerja sebelumnya di perusahaan yang sama.

Ya Allah, semoga negeri kami segera terbebas dari kutukan outsourcing. Saat ini, aku ingin sekali mendapatkan pekerjaan baru yang jauh lebih baik daripada yang sekarang. Aku harap hal itu segera terwujud.

Amin.

Advertisements