Kolak Ubi

Setelah shalat Isya, istriku langsung pergi ke dapur untuk memasak air di panci besar untuk membuat kolak ubi. Siang tadi, ia telah membeli sayur-sayuran untuk dibuat lotek. Salah satu bahan yang masih tersisa adalah ubi. Agar tidak mubadzir, istriku berinisiatif untuk membuatnya menjadi kolak. Ubi yang telah dicuci dan dipotong dadu kemudian dimasukkan ke dalam panci. Sambil menunggu air memanas, ia menyiapkan gula merah dan santan. Lima belas menit kemudian, ia yakin air telah sangat panas. Kemudian gula merah yang telah diiris kecil-kecil dimasukkan ke dalam panci sampai mendidih. Setelah itu baru dimasukkan santan. Aduk terus-menerus hingga matang. Ia turunkan panci itu dari kompor gas. Ia simpan di sisi meja dapur. Membuka tutup pancinya dan langsung mengambil 2 buah mangkuk untukku dan dirinya. Itulah proses sederhana membuat kolak ubi.

Sambil menonton drama Korea berjudul I Hear Your Voice, kami berdua khusyuk menikmati kolak ubi yang masih panas dan ngebul. Udara malam yang dingin setelah turun hujan sedari sore tadi membuat hidangan kolak ubi semakin istimewa. Menyantap kuliner hangat, manis dan enak dalam suasana yang dingin memanglah mantap. Apalagi ditemani istri tercinta.

Setelah kenyang makan kolak ubi, maka datanglah konsekensinya. Malam ini kita berdua berlomba untuk perang. Ya sebuah perang yang terjadi gara-gara makan ubi. Ubi dikenal ampuh bisa menstimulasi perut untuk memproduksi gas. Jadi sudah bisa kamu tebak kan perang apa yang aku maksud tadi?

Bau atau tidak bau, kita berdua menikmatinya. Sebuah kebahagiaan memang tidak harus selalu mewah. Semangkuk kolak ubi yang dimasak istriku sudah cukup membuatku bahagia dan rasa sayangku kepadanya semakin bertambah.

Advertisements