Kedai 1002 Mimpi

Senin, 29MAY17

Biasanya, aku menyimpan buku-buku di meja belajar yang ada di kamarku. Disusun rapi. Berderetan dan terklasifikasi. Mulai dari buku-buku pelajaran di sekolah dan pesantren atau novel-novel yang biasa aku beli setiap tiga bulan sekali.

Sejak kecil aku memang gemar membaca buku. Apapun itu. Bisa jadi komik, koran, buku cerita, fabel dan sebagainya. Dari hobi membaca buku, timbul keinginan diriku untuk bisa menulis cerita sendiri. Oleh karena itu, sedikit demi sedikit aku belajar menulis cerita.

Sebelum aku kembali ke Jakarta, aku masuk ke kamar keponakanku. Aku mecari-cari buku yang bisa aku baca di bis. Kenapa aku tidak masuk ke kamarku sendiri? Karena sejak aku keluar dari rumah untuk sekolah dan mesantren pada tahun 2000, aku sudah tidak punya kamar lagi. Barang-barangku seperti buku sering berpindah tempat dari kamar yang satu ke kamar yang lainnya.

Aku sendiri tidak keberatan dengan hal ini karena memang sejak saat itu hingga hari ini aku jarang berada di rumah. Kamar yang dulunya biasa aku pakai telah dipakai menjadi kamarnya Teteh. Jadi, jika aku pulang ke rumah, aku akan menyimpan tas di ruang tamu. Bahkan seringkali aku tidur tidak di kamar tetapi di ruang tengah. Sebenarnya ada kamar kosong peninggalan Bapak tapi kamar itu jarang ditempati.

Sekitar sepuluh menit, aku merapikan buku-buku yang tersisa. Bukunya pun tidak sebanyak dulu. Aku menyimpan kembali keranjang buku ke atas lemari. Ada satu buku yang telah lama aku miliki. Sudah selesai aku baca. Tapi aku tetap mengambilnya.

Judulnya Kedai 1002 Mimpi karangan Valiant Budi alias Vabyo. Buku ini merupakan sekuel dari buku sebelumnya yaitu Kedai 1001 Mimpi. Jika di seri pertamanya bercerita tentang kehidupan seorang barista kopi di Arab Saudi maka buku keduanya ini berisi tentang kehidupan Vabyo setelah pulang dari sana.

Buku pertama telah aku baca ketika masih bekerja di GCC (Garuda Call Center) Bandung. Buku itu aku pinjam dari Reka. Banyak sekali pengalaman hidup Vabyo yang inspiratif dan mengajariku beberapa ilmu dan wawasan. Dengan cara penuturan cerita yang khas dan menarik membuatku betah membaca buku tersebut.

Pernah terbersit di benakku, mungkin suatu saat nanti aku bisa menulis buku tentang pengalaman hidupku juga. Semua pengalaman yang menarik, asyik, bahagia atau pun yang penuh drama dan duka lara bisa dijadikan sebagai materi di buku.

Advertisements