Kangen

Terkadang, rasa kangen itu tidak perlu menunggu hingga puluhan minggu atau ratusan jam dalam hitungan waktu. 

Sekitar jam 2 siang, aku sudah kembali ke rumah kontrakanku di Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Hari ini, aku sudah balik ke tempat tinggalku di Jakarta. Sejujurnya sih aku masih ingin berada di Bandung. Khawatir akan macet parah dan susah dapat bus menjadi alasanku untuk mempercepat masa liburanku.

Seperti dugaanku, bus Primajasa yang biasa aku naiki penuh oleh para pemudik yang menuju Jakarta. Aku sudah menunggu di Agen Primajasa di Cipacing-Cileunyi dari jam setengah 11 pagi.

Bus jurusan Cililitan baru tiba jam 11 pagi. Aku bergegas naik ke dalam bus bersama belasan penumpang lainnya. Ternyata di dalam bus sudah penuh. Aku tidak menemukan kursi yang kosong. Semua telah terisi.

Dengan langkah gontai dan kecewa, aku kembali menuju pintu depan bus. Saat aku mau turun, Pak Supir menyarankanku untuk duduk di sebelahnya. Bukan duduk di kursi sebelah supir, karena memang itu tidak ada. Aku duduk di lantai bus dekat tuas perseneling bus yang kokoh berdiri.

“Bus sudah penuh dari Garut. Duduk saja disini. Nanti juga ada yang turun.”

Bak kerbau dicocok hidung, aku mengikuti saran Pak Supir. Aku masih beruntung bisa duduk karena ada beberapa penumpang yang rela berdiri di sepanjang perjalanan.

Beruntungnya lagi, jalanan dari tol Cileunyi hingga Cikarang Utama tidak terlalu penuh. Memang ramai oleh kendaraan tetapi bus masih bisa melaju dengan cepat.

Malam ini, udara cukup bersahabat. Hujan yang turun ketika Magrib tadi cukup ampuh membuat cuaca menjadi dingin. Walau tidak sedingin Bandung, tapi aku tetap mensyukurinya.

Mata belum ingin terpejam, sementara pikiran berkelana nun jauh ke sana, ke rumah istriku yang di Bandung.

Malam ini, aku kangen dia. Terutama, aku kangen Faeeza. 

Memang benar, kangen itu tidak perlu lama. Baru berpisah setengah hari saja, aku sudah ingin bertemu mereka berdua.

Semoga Allah senantiasa menjaga istri dan buah hatiku.

Amin.

Advertisements