Satu Tahun

Tanggal 25 Januari 2017 adalah tepat satu tahun sejak meninggalnya Bapak. Tidak terasa, ternyata beliau sudah setahun meninggalkanku dan keluarga. Waktu begitu cepat berlalu. Hingga saat ini aku masih bisa mengingat hari-hari terakhir bersamanya. Walau sekarang beliau sudah wafat namun aku tetap merasakan kehadirannya. Terutama seminggu terakhir ini. Di beberapa malam, aku memimpikan beliau. Aku bertemu dengan Bapak di dalam mimpi. Aku hanya bisa melihatnya tetapi tidak bisa berbicara dengannya. Continue reading

Recharge Energy

Sepeninggal Almarhum Bapak, aku merasakan ada yang hilang dari diriku. Bukan hanya sosok ayah tapi sebagian semangat pun ikut hilang. Alhasil, beberapa target tulisanku untuk blog Ishfah Seven menjadi tertunda. Aku menyadari kalau aku tidak boleh begini terus. Aku harus tetap semangat untuk menulis. Nah, hari sabtu di minggu ini adalah 40 hari meninggalnya Bapak. Aku berharap aku bisa tenang dan bisa kembali mengumpulkan energi dan semangatku untuk menjalani kehidupan di masa yang akan datang.
Continue reading

Pencarian Jodoh

Semasa hidupnya, Bapak pernah berwasiat kepadaku agar aku segera menikah. Katanya, Bapak ingin melihat aku menikah dan bisa bermain dengan cucunya nanti. Namun sayangnya hal itu tidak terjadi. Bapak sudah terlebih dahulu meninggalkanku. Beliau sudah meninggal sekitar 3 minggu yang lalu.

Sepeninggal Bapak, keluarga mendukungku untuk segera mewujudkan keinginan Bapak tersebut. Aku juga menginginkan untuk menikah. Tapi hingga saat ini calon pendampingku itu belum juga aku temukan.

Continue reading

Bapak Meninggal

Pagi itu tanggal 25JAN16 (15 Rabi’ul Akhir 1437 Hijriyah) hari Senin, aku sudah bangun untuk melakukan ibadah sahur. Aku berniat untuk melakukan Puasa Senin Kamis mencontoh Nabi Muhammad. Namun 5 menit menjelang adzan subuh, telponku berbunyi. Teteh aku menelpon dan mengatakan bahwa Bapak sudah meninggal. Ia menelpon sambil menangis tersedu-sedu. Mendengar hal itu, aku segera mengambil air wudhu kemudian sholat subuh. Setelah sholat, kakak sulung aku menelpon dan mengajakku pulang bersamanya dengan kakak ketiga aku. Aku segera bergegas pergi setelah memberitahu teman kos sekaligus teman kerjaku, Ramdan. Aku meminta dia memberitahukan hal ini kepada teman-teman di kantor.
Continue reading